waspadai kangker pada anak

 MEWASPADAI KANKER PADA ANAK

Kurangnya pengetahuan, serta ketidakmampuan si kecil mengungkapkan keluhan, menyebabkan kanker pada anak kerap baru terdeteksi setelah stadium lanjut. Orangtua dan keluarga berperan penting dalam kesembuhannya.
Tanggal 23 Oktober 1996 sepertinya menjadi saat bersejarah bagi Natarini. Hari itu ia divonis menderita kanker darah (leukemia). Usianya masih belia, 12 tahun. Bayangan masa depannya pun langsung pupus, hilang bersama bayangan penyakit mematikan itu. “Sangat sulit menggambarkan perasaan saya waktu itu,” kenangnya. Berkat dorongan orangtua dan kerabat, lambat laun kepercayaan dirinya pulih. Ia pun bertekad untuk sembuh.    Dengan perjuangan yang cukup besar dan melelahkan, akhirnya Rini dapat melalui masa-masa pengobatan yang disebutnya ‘menyeramkan.’ “Tanggal 9 April 1999 saya selesai menjalani pengobatan. Alhamdulillah, berkat rida Allah, saya sembuh dan dapat menjalani aktivitas normal seperti teman-teman lainnya,” kata Rini. Kini, ia duduk di semester akhir Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Tirtayasa Banten.Ternyata, tak sedikit anak-anak yang bernasib seperti Natarini, yaitu terserang kanker dalam usia dini. Menurut dr. Djajadiman Gatot, Sp.A(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, kanker dapat menyerang semua orang, di semua bagian tubuh dan semua golongan umur. “Termasuk anak dan bayi, bahkan janin yang masih dalam kandungan sekalipun.” Angka internasional menyebutkan, 110 – 130 dari satu juta anak menderita kanker.

TAK MUDAH DIKETAHUI
Dalam banyak hal, kanker anak berbeda dengan kanker orang dewasa. “Kanker anak hanya sekitar 2 persen dari seluruh penyakit kanker pada manusia, namun memberikan dampak tersendiri dan merupakan penyebab kematian yang bermakna pada anak,” lanjut Djajadiman saat tampil dalam dialog interaktif dan media gathering tentang Kanker Anak dan Perempuan beberapa waktu lalu.
Umumnya, kanker anak tidak mudah diketahui secara dini, karena pada tahap awal, jarang memberikan keluhan pada penderita, maupun gejala yang mudah dilihat. Sampai saat ini penyebab kanker pada anak masih belum jelas benar. “Tapi diyakini karena interaksi dari berbagai faktor (multifaktorial),” tandas Djajadiman.
Salah satu yang diduga menjadi penyebab adalah adanya penyimpangan pertumbuhan sel akibat cacat gen. Anak belum mendapat paparan cukup lama, sehingga faktor genetik juga sangat berperan. “Akibat cacat pada sel, pertumbuhan sel jadi menyimpang dan tidak mau lagi dikendalikan.”

Pengaruh lingkungan yang berinteraksi (faktor ekogenetik) dan berbagai cacat atau kelainan bawaan juga ditengarai ikut meningkatkan risiko kanker anak. Kemungkinan lain adalah faktor prakonsepsi. Ini bisa terjadi pada ibu-ibu yang mempunyai risiko tinggi, misalnya bekerja pada area sinyal radiasi.

Gejala kanker pada anak maupun bayi menjadi lebih susah diketahui, karena anak-anak tidak dapat merasakan atau menceritakan keluhannya. “Oleh karenanya, peranan orang-orang di sekitarnya, khususnya orang tua, sangat penting untuk mengenali gejala-gejala kanker pada anak, sehingga dapat segera dikonsultasikan pada dokter,” kata Djajadiman.

BISA SEMBUH
Meskipun mematikan, kanker pada anak bisa diobati dan potensial dapat disembuhkan, terutama bila dikenali atau ditemukan sejak dini (stadium dini). Harapan sembuh menjadi lebih besar apabila anak penderita kanker dapat melewati masa hidup sesudah pengobatan paling sedikit 5 tahun (5-year survival), bahkan pada beberapa jenis kanker, memerlukan waktu lebih dari 5 tahun.Penanganan dan pengobatan kanker pada anak tergantung jenis dan stadiumnya. “Secara garis besar tidak jauh berbeda dengan pengobatan pada orang dewasa, yaitu gabungan antara operasi (mengangkat tumor), kemoterapi, dan radiasi, selain pengobatan suportif dan rehabilitasi pasca-operasi,” jelas Djajadiman seraya melanjutkan, pengobatan kanker pada anak bukan semata-mata memperpajang umur, tetapi selalu diupayakan mencapai kesembuhan.  GEJALA TUMPANG TINDIH
Selain anak tidak merasakan apa-apa, kanker anak juga sulit dideteksi dini karena anak tidak bisa bercerita. “Banyak gejala kanker anak yang tumpang-tindih, sehingga yang penting adalah menentukan apakah yang dialami anak kanker atau bukan. Jika sudah pasti kanker, baru kemudian ditentukan jenis, dan kemudian pengobatannya,” jelas Djajadiman. Kanker anak sendiri dikelompokkan ke dalam beberapa jenis, antara lain:
a. Leukemia (kanker darah)
Leukemia merupakan jenis kanker darah yang paling banyak dijumpai pada anak-anak. Leukemia mempunyai harapan sembuh dengan pengobatan yang tepat dan benar. “Gejala yang perlu diwaspadai dan sering ditemukan pada leukemia antara lain wajah pucat, lesu, lemah, demam yang tidak jelas sebabnya, perdarahan yang tidak jelas sebabnya, nyeri tulang, dan pembengkakan perut,” jelas Djajadiman.
b. Kanker otak
Biasanya terjadi pada anak yang sudah lebih besar. Tumor pada otak dapat mengganggu fungsi dan merusak struktur susunan saraf pusat, karena terletak dalam rongga yang terbatas (rongga tengkorak). Gejala tumor otak yang harus diwaspadai adalah sakit kepala yang makin lama makin berat, disertai mual sampai muntah yang menyemprot akibat tekanan dari dalam kepala yang meningkat. Dapat pula disertai daya penglihatan berkurang serta penurunan kesadaran, bahkan bisa terjadi perubahan perilaku. Misalnya marah-marah, mengamuk, dan sebagainya. Bahkan, kalau sudah stadium berat, bisa menimbulkan kelumpuhan dan kejang.

c. Retinoblastoma (tumor mata)
Retinoblastoma adalah kanker mata yang sering dijumpai pada anak. Gejala yang perlu diwaspadai adalah adanya bercak putih di bagian tengah mata yang seolah bersinar bila kena cahaya. “Seperti mata kucing yang bercahaya pada malam hari,” kata Djajadiman. Gejala lain adalah penglihatan terganggu, juling mendadak, dan bila telah lanjut, bola mata menonjol keluar.

Retinoblastoma menjadi salah satu penyebab kematian pada anak yang cukup signifikan, apalagi jika orang tua tidak mewaspadai gejala awalnya. “Jika gejala awal ditemukan, dengan pengobatan memadai, kanker mata ini bisa disembuhkan, meskipun kadang-kadang harus mengorbankan sebelah mata, misalnya.”

d. Limfoma Maligna (kanker kelenjar getah bening)

Kadang-kadang, gejala limfoma maligna sulit ditandai. Beberapa penyakit lain bahkan memiliki gejala yang mirip. Salah satu gejala yang harus diwaspadai sebagai kanker kelenjar getah bening adalah bila terjadi pembengkakan progresif kelenjar-kelenjar getah bening di leher, ketiak, dan usus, tanpa disertai radang dan rasa nyeri. Bila timbul di kelenjar getah bening dalam usus, dapat menyebabkan sumbatan pada usus dengan gejala sakit perut, muntah, tidak bisa buang air besar, dan demam. Bila tumbuh di daerah dada, dapat mendorong atau menekan saluran napas, sehingga penderita mengalami sesak napas dan muka membiru.e. Neuroblastoma (kanker saraf)
Pada anak yang paling sering terjadi di dekat ginjal, di daerah pinggang. Karena letaknya di dalam, deteksi dini kanker saraf juga agak sulit. Umumnya, pasien datang dalam keadaan agak lanjut. Selain di dekat ginjal, neuroblastoma dapat terjadi di daerah leher atau rongga dada, dan mata. Bila terdapat di daerah mata, dapat membuat bola mata menonjol, kelopak mata turun, dan pupil melebar. Bila terdapat di tulang belakang, dapat menekan saraf tulang belakang dan mengakibatkan kelumpuhan yang cepat. “Tumor di daerah perut akan teraba bila sudah cukup besar. Penyebaran pada tulang dapat menyebabkan patah tulang tanpa sebab, tanpa nyeri sehingga penderita pincang mendadak,” jelas Djajadiman.
f. Rabdomiosarkoma (kanker kelenjar otot)
Kanker ini dapat menyerang otot dimana saja, biasanya pada anak di daerah kepala, leher, kandung kemih, prostat (kelenjar kelamin pria), dan vagina. Gejala yang ditimbulkan tergantung letaknya. Pada rongga mata, dapat menyebabkan mata menonjol keluar, benjolan di mata. Di telinga menyebabkan nyeri atau keluarnya darah dari lubang telinga. Di tenggorokan menyebabkan sumbatan jalan napas, radang sinus (rongga-rongga di sekitar hidung), keluar darah dari hidung (mimisan) atau sulit menelan. Di saluran kemih menyebabkan gangguan berkemih. “Sementara bila menyerang otot anggota gerak, akan menimbulkan pembengkakan.”

h. Osteosarkoma (kanker tulang)
Jenis kanker yang juga cukup banyak menyerang anak, khususnya anak yang agak lebih besar adalah kanker tulang primer, artinya timbul dari tulang, bukan dari tempat lain yang masuk ke tulang. “Biasanya ditandai rasa nyeri dan pembengkakan pada tulang,” papar Djajadiman. Kanker tulang dapat menyerang setiap bagian tulang, tetapi yang terbanyak ditemukan pada tungkai, lengan, dan pinggul. Kadang-kadang didahului benturan keras, seperti jatuh dan sebagainya.

One Response

  1. infonya brguna bgt tuh……

    dear xbalzone

    aq pny sepu2 yg br operasi kanker perut.untungnya ktny msh di luar rahm. skr shrusny mnlni kemoterapi, tetapi dengan pertimbangan suatu hal diantarany n terutama dari segi biaya, hal itu blm dilakukan.
    saya mau tanya sebenarny biaya sekali kemoterapi pasca operasi kanker berapa?
    trus pengobatn alternatif apa yg bisa menggantikan kemoterapi tsb, mengingat mahalny biaya kemotrp?

    thanks n regard

Leave a Reply